menu

Jumat, 11 September 2015

Pemerintahan

PEKALONGAN – Menanggapi tantangan dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk menangani limbah batik, Fakultas Batik Unikal telah melakukan beberapa hal. Diantaranya dengan mengenalkan konsep ilmu lingkungan dan eco eficiency batik kepada mahasiswanya.
Diungkapkan Kepala Program Studi Fakultas Teknik Batik, Muhtadin, menurut data sumber pencemaran dan identifikasi yang dihimpun dari Fakultas Batik Unikal dan bekerjasama dengan Kantor Lingkungan Hidup, ada sekitar 987 Industri dengan jumlah limbah mencapai 79.878 Meter kubik.
Ditambahkan, sebenarnya ada tiga hal pokok dalam upaya penanganan limbah. Diantaranya melakukan substitusi terhadap bahan yang digunakan agar tidak terbentuk limbah, eco eficiency dengan cara me-recycle atau me-reuse limbah. Dan yang terakhir jika limbah sudah terbentuk melakukan pengolahan limbah.
Jadi sebenarnya yang diutamakan bukan pengolahan limbahnya. Tetapi bagaimana kita menggunakan bahan yang ramah lingkungan. Kalaupun ketika diproses ada muncul limbah, limbah seminim mungkin diminimkan, diolah kembali. Kalau sudah terbentuk berarti pengolahan,” paparnya.
Lebih jauh, Muhtadin menuturkan di Teknik Batik sendiri, pihaknya membekali mahasiswanya dengan ilmu lingkungan dan eco eficiency batik. Dijelaskannya, eco eficiency merupakan produksi batik dengan berwawasan lingkungan dan menggunakan warna alam. “Me-recycle, jadi limbah itu diolah kembali atau dipakai kembali seperti itu, kita ada mata kuliahnya,” imbuhnya.
Terkait dengan pengabdian masyarakat, Fakultas Batik Unikal juga kerap melakukan beberapa sosialisasi di beberapa tempat, paguyuban serta sentra-sentra pengrajin batik.
Sosialisasi tersebut, sambungnya, terkait dengan produksi ramah lingkungan dan eco eficiensy batik. “Kita lakukan juga di Pekalongan di Kelurahan Bandengan terus di Pabean. Kita menyampaikan disitu terkait dengan eco eficiency batik, bagaimana sih memproduksi batik dengan menggunakan zat yang se-optimal mungkin sehingga menghasilkan limbah yang sangat-sangat kecil,” katanya.
Pihaknya juga pernah bekerjasama dengan LSM Akademi Berbagi serta Batik TV untuk menyampaikan eco eficiency kepada masyarakat luas. Menurutnya, Hal utama yang perlu diubah adalah perilaku. Namun saat ini seiring dengan berjalannya generasi batik yang berasal dari kaum muda, banyak diantara mereka yang mulai berfikir tentang perubahan tersebut.
Kuncinya saya pikir di perilaku. Yang kedua adalah pengetahuan terkait dengan proses, karena optimalisasi terhadap penggunaan zat warna itu tidak terlepas dari pengetahuan keilmuan di prosesnya,” katanya. Ia mencontohkan, ketika menggunakan Zat warna A dengan komposisi dua gram perliter saja sudah mencapai hasil yang diinginkan. Tidak perlu memberikan tiga gram perliter. “Yang terjadi adalah banyak yang kurang optimum.
Jadi seharusnya untuk warna seperti yang diharapkan dengan dua gram saja cukup, tapi mereka menggunakan berlebihan, tiga gram, empat gram, dan sebagainya. Ini kan butuh keilmuan, butuh penguasaan di bidang keilmuan,” paparnya.
Jika anda ingin lebih tau tentang Kota Pekalongan ? Kunjungi web di bawah ini :

http://pekalongankota.go.id/beranda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar